Artikel


 
 

Tongue Tie, Apa dan Bagaimana Dampaknya pada Bayi


Last Update : 2017-11-16

Tongue Tie, Apa dan Bagaimana Dampaknya pada Bayi

Ninda sedang menikmati masa-masa menjadi ibu baru. Ia baru saja melahirkan bayi perempuan yang lucu dan menggemaskan. Namun, dua minggu kemudian, ia merasakan nyeri hebat saat menyusui dan dokter menyatakan bahwa berat bayinya kurang. Padahal, Ninda merasa bayinya cukup lahap dalam menyusu, bahkan dapat mencapai 40 menit setiap kalinya. Tergoda dengan iklan di televisi, Ninda sempat mempertimbangkan untuk memberikan susu formula. Apalagi mengingat nyeri payudara yang menderanya. Namun, setelah diperiksa dokter, ternyata masalahnya bukan pada kurangnya jumlah ASI, namun pada lidah bayinya. Bayi Ninda dinyatakan “tongue tie”, atau dikenal juga dengan lidah pendek.



Sebenarnya apa yang dimaksud dengan tongue tie? Tongue tie adalah kelainan pada lingual frenulum, yaitu pita yang menghubungkan antara bagian bawah lidah dengan dasar mulut, di mana lingual frenulum terlalu pendek sehingga mengganggu pergerakan lidah. Normalnya, jarak antara ujung lidah dengan frenulum adalah lebih dari 16 mm. Jika terlalu pendek, berbagai fungsi seperti menyedot, makan, menelan, dan berbicara dapat terganggu. Gangguan ini dapat bervariasi dari ringan sampai berat, dan dapat menurun dalam keluarga, terutama pada anak laki-laki.



Tongue tie seringkali terlewatkan, sampai timbul gejala yang mengganggu. Pada dewasa atau anak yang sudah dapat bicara, dapat ditandai dengan berat badan yang kurang atau gangguan pengucapan huruf t, d, dan n. Penderitanya kadang berbicara tidak jelas dan mengalami kerusakan bervariasi pada gigi. Sedangkan pada bayi, mungkin baru disadari oleh dokter atau ibu setelah terjadi gangguan menyusui, seperti luka atau infeksi pada payudara ibu, berat badan rendah, muntah, dan gumoh.



Penilaian beratnya tongue tie pada anak dan dewasa tentu saja berbeda. Menurut penilaian Kotlow yang dirumuskan oleh dokter gigi anak di Amerika, tongue tie dapat diklasifikasikan menjadi 4 berdasarkan panjang lidah yang bebas (jarak antara ujung lidah dengan frenulum. Derajat I (12-16 mm) termauk ringan, Derajat II (8-11 mm) termasuk sedang, Derajat III (3-7) berat, dan Derajat IV (<3 mm) termasuk tongue tie total. Tebal dari pita frenulum juga bervariasi, mulai dari yang tipis sehingga terlihat transparan, sampai tebal.



Akibat tongue tie yang tidak diobati



Akibat yang ditimbulkan tongue tied dapat bervariasi, bergantung pada usia dan beratnya kondisi penderita. Pada beberapa kasus, tongue tie yang tidak diobati, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan seseorang, seperti halnya;




  • Dampak pada bayi: kurangnya asupan susu, dihentikannya pemberian ASI, gangguan pertumbuhan bayi, terganggunya hubungan atau kemesraan antara ibu dan bayi, bayi menjadi kurang tidur, bayi sulit menerima makanan padat di kemudian hari

  • Dampak pada ibu: nyeri saat menyusui, lecet atau gangguan lainnya pada puting, infeksi pada payudara atau tersumbatnya saluran payudara, terhentinya proses menyusui, kurang tidur karena bayi rewel, ibu menjadi depresi atau merasa gagal.

  • Dampak pada masa kanak-kanak: sulit mengunyah makanan padat, muntah, atau tersedak saat makan, kesulitan dalam membersihkan gigi, gangguan perkembangan wicara, gangguan perilaku. Jika berlanjut dapat menurunkan rasa percaya diri anak, atau menimbulkan perilaku atau kebiasaan buruk baru karena merasa dirinya berbeda dari teman-temannya.

  • Pada dewasa, permasalahan dapat lebih kompleks, karena melibatkan kehidupan sosial dan rumah tangga, rasa percaya diri, lingkungan kerja, serta kesehatan giginya. Adanya tongue tied akan mempengaruhi kebiasaan makan dan berbicara. Ia akan sulit berbicara dengan jelas, terutama saat berbicara cepat, keras atau lembut. Tongue tie juga mengakibatkan migraine, nyeri pada rahang, dan kerusakan gigi berulang. Belum lagi permasalahan sosial dan emosional akibat tongue tie.






© copyright 2013 - 2017, Rumah Wasir. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang