Artikel


 
 

Selain Obat, 3 Cara ini Bisa Cegah Transmisi HIV dari Ibu ke Janin


Last Update : 2017-11-09

Selain Obat, 3 Cara ini Bisa Cegah Transmisi HIV dari Ibu ke Janin

Pencegahan yang dianjurkan oleh guidelines WHO tahun 2006, adalah kombinasi antara zidovudine dan dosis tunggal nevirapine. Hal ini lebih sulit dilakukan dibanding pemberian nevirapine saja, namun lebih efektif secara signifikan, dan memiliki kecenderungan resistensi yang lebih rendah. Pada guidelines tahun 2010, semua ibu dengan HIV positif, yang teridentifikasi selama kehamilan, harus mendapatkan obat ART secara ekstensif guna mencegah transmisi ke janin. Jika terapi ekstensif ini tidak tersedia, maka dapat digunakan rekomendasi tahun 2006, atau meminum zidovudine mulai dari 28 minggu kehamilan. Selama persalinan, ibu harus meminum zidovudine dan lamivudine, dan nevirapine dosis tunggal. Bayi harus diberikan nevirapine dosis tunggal segera setelah lahir, diikuti dengan pemberian zidovudine selama 7 hari. Ibu harus melanjutkan terapi zidovudine dan lamivudine selama 7 hari setelah melahirkan, untuk menurunkan risiko resistensi obat.



Wanita dengan HIV tingkat lanjut memerlukan kombinasi ART setiap hari seumur hidup, termasuk untuk mencegah transmisi dari ibu ke janin. Wanita yang memerlukan terapi ini dianjurkan untuk meminum obat sesegera mungkin atau setelah trimester pertama.



Sekitar 15% bayi yang lahir dari wanita dengan HIV positif akan terinfeksi HIV setelah mendapat ASI selama 24 bulan atau lebih. Risiko transmisi bergantung pada eksklusivitas ASI, lamanya menyusui, kesehatan payudara ibu, dan status nutrisi serta imunitas ibu. Risiko meningkat jika ibu terinfeksi HIV selama masa menyusui. Untuk itu, wanita dengan HIV negatif atau tidak mengetahui status HIVnya harus memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Untuk wanita dengan HIV positif dan memilih memberikan makanan pengganti harus berkonsultasi dahulu guna memberikan nutrisi yang tepat. Sedangkan yang memutuskan untuk menyusui, tetap memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, dengan memperhatikan perubahan pada bayi selama masa tersebut, menjalani pengobatan preventif dan pengobatan terhadap mastitis, gangguan pada mulut bayi, penyapihan, dan menentukan waktu yang tepat untuk mengganti ke susu formula.



Strategi untuk mencegah transmisi HIV tanpa menggunakan terapi antiretrovirus



Kebanyakan transmisi HIV terjadi di sekitar masa persalinan, mengingat pada saat tersebut janin cenderung terpapar dengan cairan tubuh ibu. Dengan demikian, proses persalinan melalui operasi Caesar diharapkan dapat menurunkan risiko. Sebuah meta-analisis terhadap 15 studi mengenai pencegahan transmisi HIV melalui operasi Caesar menyatakan, bergantung pada penggunaan ART, derajat penyakit HIV pada ibu dan berat badan lahir, maka pembedahan Caesar secara elektif sebelum dimulainya proses persalinan normal dan pecahnya ketuban, dapat menurunkan risiko transmisi dari ibu ke bayi sampai hampir 50% jika dibandingkan operasi Caesar non-elektif atau persalinan per vaginam. Studi di Perancis dan Switzerland menunjukkan bahwa operasi Caesar dapat memberi manfaat tambahan terhadap zidovudin dalam menurunkan angka transmisi HIV.



Meski demikian, penggunaan zidovudine sendiri dikatakan mampu menurunkan transmisi HIV sama seperti operasi Caesar tanpa zidovudine. Penggunaan kombinasi ART yang lebih poten, mungkin dapat mengurangi kebutuhan akan operasi Caesar elektif. Ini karena wanita yang terinfeksi HIV cenderung memiliki lebih banyak komplikasi operasi dibanding wanita yang tidak. Penggunaan antiseptik vaginal dan servikal dianjurkan untuk menurunkan paparan virus terhadap bayi selama persalinan. Di antaranya adalah klorheksidin dengan konsentrasi 0,2%.



Di negara industri, wanita yang terinfeksi HIV tidak dianjurkan untuk menyusui guna mencegah transmisi HIV post-partum. Nduati dkk melakukan percobaan klinis secara acak di Kenya untuk membandingkan insidens infeksi HIV pada bayi dan mortalitas pada 2 tahun pertama kehidupan, pada bayi yang mendapat ASI dan susu formula. Pada kelompok yang mendapat ASI ternyata terdapat infeksi HIV-1 yang lebih banyak secara signifikan (probabilitas kumulatif infeksi HIV 36,7%) dibanding bayi yang mendapat formula (20,5%). Kebanyakan transmisi yang terjadi melalui proses menyusui terlihat pada 2 bulan pertama kehidupan. Sedangkan angka mortalitas pada bayi yang mendapat formula adalah 20% dan pada yang mendapat ASI 24,4% (P=0.3). Untuk memastikan formula dapat dijadikan pengganti ASI, maka diperlukan air bersih yang cukup, susu formula yang terjangkau, dukungan terhadap ibu dan diperlukan terapi diare secara gratis.






© copyright 2013 - 2017, Rumah Wasir. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang