Artikel


 
 

Kuning pada Bayi Berlanjut? Mungkin Kolestasis


Last Update : 2017-10-20

Kuning pada Bayi Berlanjut? Mungkin Kolestasis

Kolestasis berasal dari kata “kole” dan “stasis” yang berarti empedu dan sumbatan. Sehingga kolestasis bisa diartikan sumbatan pada saluran empedu. Empedu mengandung bahan-bahan yang harus dikeluarkan oleh hati, seperti bilirubin dan garam empedu. Adanya sumbatan akan menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dan penumpukan garam empedu. Umumnya kondisi ini ditandai dengan meningkatnya kadar bilirubin lebih dari 1,5 mg/dl atau komponen bilirubin yang lebih dari 15 % kadar bilirubin total.



Pada neonatus atau bayi baru lahir, penyebab kolestasis yang paling sering adalah peradangan hati pada bayi baru lahir yang tidak diketahui sebabnya (hepatitis neo­natal idiopatik), yaitu sebesar 35-40%. Diikuti dengan tidak terbentuk atau tertutupnya saluran empedu (atresia bilier ekstrahepatik) sebesar 25-30%, kelainan genetik defisiensi alfa-1 antitripsin (7­-10%), sindrom kolestasis intrahepatik (5-6%), dan infeksi. Perbandingan atresia bilier pada anak perempuan dan laki-laki adalah 2 : 1, sementara pada hepatitis neonatal rasionya terbalik.



Bayi Kuning, Normal atau Tidak?



Tak jarang kita menemukan ibu dengan bayi kuning, menjemur bayinya guna mempercepat turunnya kadar bilirubin tersebut, terutama di pagi hari.



Sementara kuning yang disebabkan sumbatan empedu, umumnya disertai urin yang berwarna kecoklatan atau tinja yang berwarna putih dempul. Jika tidak ditangani dengan segera, kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan hati, dengan penyebab tersering berupa atresia bilier. Saat terjadi gagal hati, tidak menutup kemungkinan bayi akan mengalami pembesaran limpa, penumpukan cairan di perut (asites), dan muntah darah akibat pecahnya pembuluh darah di kerongkongan.



Lalu  pada kondisi apa ibu perlu mencurigai bahwa kuning yang dialami bayi tidak normal? Sebelum dua minggu, bayi masih boleh terus di anjurkan dijemur. Namun ketika kuning tidak kunjung menghilang, usia 2 minggu adalah waktu tepat untuk melakukan pemeriksaan ke dokter. Pemeriksaan fisik pada bayi kuning difokuskan pada penampilan umum bayi, berat badan, panjang badan dan lingkar kepala



Dokter, akan meminta pasien melakukan pemeriksaan kadar bilirubin, darah tepi lengkap, uji fungsi hati termasuk transaminase serum (SGOT, SGPT, GGT), alkali fosfatase, masa protrombin, ureum, kreatinin, elektroforesis protein, dan bilirubin urin, untuk memastikan diagnosa.



Pemeriksaan USG dapat melihat patensi duktus bilier, keadaan kandung empedu saat puasa dan sesudah minum; serta dapat mendeteksi adanya kista duktus koledokus, batu kandung empedu, dan tumor.



Terapi



Selama evaluasi dilakukan, dokter dapat memberikan terpi medikamentosa yang bertujuan memperbaiki aliran bahan-bahan yang dihasilkan oleh hati terutama asam empedu (asam litokolat), dengan memberikan:




  1. Fenobarbital 5 mg/kgBB/hari dibagi dua dosis, peroral. Fenobarbital merangsang enzim glukuronil transferase (merangsang ekstresi bilirubin), enzim sitokrom P-­450 (untuk oksigenisasi toksin), enzim Na-K-ase (menginduksi aliran empedu).

  2. Kolestiramin. Dosis untuk neonatus 1 g/kgBB/hari dibagi 6 dosis atau sesuai jadwal pemberian susu/minum. Dosis bayi 250-750 mg/kgBB/hari. Dosis anak besar maksimal 16 gram/hari. (1 sachet = 4 gram). Kolestiramin memotong siklus enterohepatik asam empedu sekunder.



Dokter mungkin juga memberikan obat-obatan yang mampu melindungi hati dari zat toksik, dengan memberikan asam ursodeoksikolat 3-10 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis, peroral.



Nutrisi diberikan agar anak dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin. Nutrisi dimaksud dilakukan dengan pemberian makanan yang mengandung medium chain triglicerides (MCT) untuk mengatasi malabsorbsi lemak. Juga dilakukan penatalaksanaan defisiensi vitamin yang larut dalam lemak dengan memberikan tambahan berupa; Vitamin A, Vitamin D3, Vitamin E, Vitamin K, Kalsium dan fosfor.






© copyright 2013 - 2017, Rumah Wasir. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang