Artikel


 
 

Jangan Anggap Remeh Demam di Musim Hujan


Last Update : 2017-10-12

Jangan Anggap Remeh Demam di Musim Hujan

“Sepulang sekolah, awalnya Dicky hanya mengeluh demam dan sakit kepala. Setelah saya berikan obat penurun panas, demamnya mereda. Namun, panas masih naik turun sekitar empat hari. Hari ke-5, begitu panasnya turun, Dicky malah mimisan disertai muntah-muntah. Karena panik, saya segera bawa Dicky ke rumah sakit,” tutur Martha, Ibunda Dicky (5 tahun).



Meski saat tiba di rumah sakit, mimisan Dicky sudah berhenti, tapi entah mengapa ia malah pingsan dan semua orang di rumah sakit tiba-tiba sibuk mengerubungi anak saya. “Di situ saya baru tahu bahwa Dicky menderita demam berdarah dan sudah dalam taraf yang berbahaya,” kenang Martha dengan raut sedih. Sukurlah, Dicky sekarang sudah sembuh, meski kala itu ia harus dirawat selama 10 hari di rumah sakit.



Tak bisa dipungkiri, demam berdarah adalah momok yang ditakuti masyarakat Indonesia, terutama saat musim hujan tiba. Setiap musim ini datang, hampir dipastikan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit meningkat. Namun, banyak juga penderita DBD yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara tepat. Akibatnya, mereka dibawa dalam keadaan sudah terlambat sehingga sulit ditangani. Banyak yang akhirnya meninggal atau sembuh tapi meninggalkan kecacatan.



Demam berdarah dengue adalah demam yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan demam dengue. Hampir mirip dengan demam berdarah dengue, ya? Hanya saja, pada kasus demam berdarah dengue pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga cairan plasma di dalamnya merembes ke luar. Akibatnya, pembuluh darah seolah mengalami kekosongan, darah menjadi kental, dan tekanan darah menurun dengan drastis. Karena darah tidak dapat mengalir dengan baik ke berbagai organ penting, termasuk otak dan ginjal. Walhasil, dapat terjadi kegagalan organ hingga kematian.



DBD sering muncul pada musim hujan karena nyamuk Aedes aegypti yang menyebarkan virus dengue berkembang biak dengan cepat di musim hujan. Nyamuk ini senang bertelur di tempat-tempat yang dapat menampung air hujan atau air yang bersih. Misalnya bak mandi yang jarang dikuras, wadah dispenser, wadah rak cuci piring, pot-pot tanaman, hingga benda-benda lain yang kita letakkan di luar rumah yang dapat tergenang oleh air hujan. Anak-anak juga mungkin saja terkena gigitan nyamuk saat sedang bersekolah. Karena itu, orang tua dan guru wajib memperhatikan seandainya di sekolah terdapat benda-benda yang menjadi sarang berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.



Karena di musim hujan orang memang lebih mudah sakit, demam yang timbul akibat DBD seringkali dianggap demam akibat flu atau demam biasa. Apalagi, anak-anak seringkali senang bermain hujan-hujanan dan sedang flu. Kemungkinan DBD bisa terlewatkan dan demam dianggap remeh oleh orang tua. Demam akibat DBD biasanya tinggi terus-menerus atau naik turun dan bertahan selama dua hingga lima hari. Selain demam, anak mungkin mengeluh kepalanya sakit atau badannya terasa pegal dan ngilu. Tidak jarang, demam dan sakit kepala tidak mempan dengan pemberian obat penurun panas. Anak juga dapat mengeluh nyeri di belakang bola matanya.



Bila ini dibiarkan, lambat laun dapat timbul gejala-gejala perdarahan. Mulai dari gusi berdarah, mimisan, perdarahan di bawah kulit berupa bintik-bintik merah kecil yang tidak hilang jika ditekan, hingga memar yang besar. Perdarahan juga dapat terjadi di saluran cerna, terutama lambung. Akibatnya timbul gejala perih di ulu hati seperti sakit maag dan buang air besar dapat kental seperti ter berwarna merah gelap karena bercampur darah dari lambung.



Seringkali orang salah kaprah denagn istilah demam berdarah. Mereka mengira bahwa demam berdarah berbahaya karena berdarah-darah. Ini juga yang sering menyebabkan penderitanya enggan dirawat di rumah sakit, karena ia merasa tidak apa-apa. Padahal, DBD mengandung bahaya tersembunyi yang lebih besar. Penderita DBD rentan mengalami syok akibat adanya kebocoran plasma. Syok akan terjadi tiba-tiba dan biasanya terjadi pada hari ke-5 sejak pertama kali anak demam. Waktu Ini merupakan masa kritis DBD. Gejalanya adalah hilangnya kesadaran, hingga kejang-kejang, kegagalan multi organ, hingga kematian. Anak yang mengalami gagal ginjal terpaksa harus cuci darah dan bila terlanjur terjadi kerusakan pada otak perkembangannya akan terganggu. Hal ini disebut dengan dengue shock syndrome.



Anda takut si kecil menderita demam berdarah? Bila ada dua dari gejala-gejala di atas, ada baiknya Anda segera membawanya ke dokter. Demikian juga bila demam berlangsung lebih dari dua hari. Untuk memastikan si kecil terkena demam berdarah atau tidak, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium. Selain untuk memastikan penyakit, hasil laboratorium juga dapat menunjukkan seberapa berat pengentalan darah yang sedang berlangsung.



Bila demam baru satu atau dua hari tetapi terdapat gejala seperti muntah-muntah, mimisan, atau perdarahan lainnya, bahkan sampai hilang kesadaran, jangan tunda lagi. Segera bawa buah hati Anda ke fasilitas kesehatan terdekat.






© copyright 2013 - 2017, Rumah Wasir. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang